Jumat, 17 Juli 2009

Arisan Ibu2 PKK

Arisan ibu-ibu selalu saja memiliki gosip yang berbagai ragam. Mulai
dari gosip berlian, gosip hutan piutang, bahkan gosip seks. Kali ini
aku terkejut sekali, ketika seorang teman membisikkan padaku, kalau
Ibu Wira itu, suka rumput muda. Justru yang dia sukai adalah laki-
laki belasan tahun. Rasany aku kurang percaya. Ap ia? Bu Wira yang
sudah berusia lebih 50 tahunmasih doyan laki-laki belasan tahun?

“Woalaaah…Bu Tuty masya enggak percaya sih?” kata Bu Lina lagi.
Aku sudah janda hampir 10 tahun, sejak perkawinan suamiku dengann
istri mudanya. Aku tak nuntut apa-apa, keculi Julius putra tunggalku
harus bersamaku dan rumah yang kami benagun bersama, menjadi
milikku. Aku sakit hati sekali sebenarnya. Justru perkawinan
suamiku, karena katanya aku tidak bisa melahirkan lagi, sejak
peranakanku diangkat, ketika aku dinyatakan terkena tumor rahim.
Suamiku mengakui, kalau permainan seksku masih sangat Ok. Dalam usia
37 tahun, aku masih keliahatan cantik dan seksi.

“Lihat tuh, Bu Tuty. Matanya asyik melirik anak bu Tuty terus tuh,”
kata Bu Salmah tetanggaku itu. Kini aku jadi agak percaya, ketika
aku melihat dengan jelas, Bu Wira mengedipkan matanya ke putra
tunggalku Julius. Rasanya aku mau marah, kenapa Bu Wira mau
mengincar putraku yang masih berusia hampir 15 tahun berkisar 12
hari lagi.

Sepulang dari arisan, aku sengaja mendatangi tetangga yang lain dan
secara lembut menceritakan apa yang diceritakan Bu Salmah kepadaku.
Tetanggaku itu tertawa cekikikan. Dari ceritanya, suami bu Wira
sudah tak sanggup lagi, bahkan suaminya sudah tahu kelakuannya itu.
Bu Wira memang suka burung muda, kata mereka. Bahkan putra
tetanggaku titu pernah digarap oleh Bu Wira. Karean malu ribut-
ribut, lagi pula anaknya yang sudah berusia 18 tahun dibiarkan saja.

“Laki-laki kan enggak apa-apa bu. Kalau anak perempuan, mungkin
perawannya bisa hilang. Kalau anak laki-laki, siapa tahu perjakanya
hilang,” kata tetanggaku pula. Bulu kudukku berdiri, mendengarkan
celoteh tetanggaku itu. Aku kurang puas denga dua informasi itu. Aku
bertandang lagi ke tetanggaku yang lain masih di kompleks
perumahan …..(Dirahasiakan) Indah. Tetangku itu juga mengatakan,
kalau itu soal biasa sekarang ini.
Malamnya aku ngobrol-ngobrol dengan putraku Julius. Julius
mengatakan, kalau Tante Wira sudah mengodanya. Bahkan sekali pernah
menyalaminya dan mempermainkan jari telunjuknya di telapak tangan
putraku. Pernah sekali juga, kata putraku, Tante Wira mengelus
burung putraku dari balik celananya, waktu putraku bermain ke rumah
Tante Wira.

Aku sangat terkejut sekali mendengar pengakuan putraku Julius
menceritakan tingkah laku Bu Wira. Tapi tetanggaku mengatakan, itu
sudah rahasia umum, dan kini masalah itu sudah biasa. Bahkan
tetanggaku mengajakku untuk berburu burung muda bersama-sama.

Malamnya aku tak bisa tidur. AKu sangat takut, kalau putraku akan
menjadi korban dari ibu-ibu di kompleks itu. Sudah sampai begitu?
Semua sudah menjadi rahasia umum dan tak perlu dipermasalahkan?
Lamat-lamat aku memperhatikan putraku. Trnyata dia memang ganteng
seperti ayahnya. Persis fotocopy ayahnya. Walau masih 15 tahun,
tubuhnya tinggi dan atletis, sebagai seorang pemain basket. Gila
juga pikirku.

Rasa takutku marah-marah kepada Bu Wira, karean aku juga mungkin
pernah dia lihat berselingkuh dengan teman sekantorku. Mungkin itu
akan jadi senjatanya untuk menyerangku kembali, pikirku. Hingga aku
harus menjaga anak laki-lakiku yang tunggal, Julius.

Ketika Julius pergi naik sepeda mootr untuk membeli sesuatu
keperluan sekolahnya, aku memasuki kamarnya. Aku melihat majalah-
majalah porno luar negeri terletak di atas mejanya. Ketika aku
menghidupkan VCD, aku terkejut pula, melihat film porno yang
terputar. Dalam hatiku, aku haru semnyelamatkan putraku yang tunggal
ini.

Sepulangnya dari toko, aku mengajaknya ngobrol dari hati ke hati.

“Kamu kan sudah dewasa, nak. Mami tidak marah lho, tapi kamu harus
jawab sejujurnya. Dari mana kamu dapat majalah-majalah porno dan CD
porno itu,” kataku. Julius tertunduk. Lalu menjawab dengan tenang
dan malu-malu kalau itu dia peroleh dari teman-temannya di sekolah.

“Mama marah?” dia bertanya. AKu menggelengkan kepalaku, karena sejak
awal aku mengatakan, aku tidak akan marah, asal dijawab dengan
jujur. AKu harus menjadikan putra tunggalku ini menjadi teman, agar
semuanya terbuka.

“Kamu sudah pernah gituan sama perempuan?” tanyaku.
“Maksud mami?”
“Apa kamu sudah pernah bersetubuh dengan perempuan?” tanyaku lagi.
Menurutnya secara jujur dia kepingin melakukan itu, tapi dia belum
berani. Yang mengejutkan aku, katanya, minggu depan dia diajak kawan-
kawannya ke lokalisasi PSK, untuk cari pengalaman kedewasaan. Aku
langsung melarangnya secara lembut sebagai dua orang sahabat. Aku
menceritakan bagaimana bahaya penyakit kelamin bahkan HIV-AIDS. Jika
sudah terkena itu, maka kiamatlah sudah hidup dan kehidupannya.

“Teman-teman Julius, kok enggak kena HIV, MI? Padahal menurut
mereka, merekaitu sudah berkali-kali melakukannya?’ kata putraku
pula. Ya ampun….begitu mudahnya sekarang untuk melakukan hal
sedemikian, batinku.
“Pokoknya kami tidak boleh pergi. Kalau kamu pergi, Mami akan mati
gantung diri,” ancamku.
“Tapi Mi?”
“Tapi apa?”
“Julius akan kepingin juga. Katanya nikmat sekali Mi. Lalu bagaimana
dong? Julius kepingin Mi. Katanya kalau belum pernah gituan, berarti
belum laki-laki dewasa, Mi?” putraku merengek dan sangat terbuka.
Aku merangkul putraku itu. Kuciumi keningnya dan pipinya denga penuh
kasih sayang. Aku tak ingin anakku hancur karean PSK dan
dipermainkan oleh ibu-ibu atau tante girang yang sering kudengar,
bahkan oleh Bu Wira yang tua bangka itu.

Tanpa terasa airmataku menetes, saat aku menciumi pipi putraku. Aku
memeluknya erat-erat. Aku akan gagal mendidiknya, jika anakku semata
wayang ini terbawa arus teman-temannya ke PSK sana.

“Kamu benar-benar merasakannya, sayang?” bisikku.
“Iya Mi,” katanya lemah. Aku merasakan desahan nafasnya di telingaku.
Yah…malam ini kita akan melakukannya sayang. Asal kamu janji,
tidak mengikuti teman-temanmu mencari PSK, kataku tegas.
“Berarti aku sama dengan Tony dong, Mi?”
“Tony? Siapa Tony?” tanyaku ingin tahu, kenapa dia menyamakan
dirinya dengan Tony. Menurut cerita Julius putraku, Tony juga
dilarang mamanya mengikuti teman-temannya pergi mencari PSK, walau
Tony sudah sempat juga pergi tiga kali bersama teman-teman
sekelasnya. Untuk itu, secara diam-diam Tony dan mamanya melakukan
persetubuhan. Katanya, Tony memakai kondom, agar mamanya tidak
hamil. Aku terkejut juga mendengarnya.

“Kamu tidak perlu memakai kondom, sayang. Mami yakin, kalau mami
tidak akan hamil,” kataku meyakinkannya. Seusai makan malam, Julius
tak sabaran meminta agar kami melakukannya. AKu melihat keinginan
putra begitu mengebu-gebu. Mungkin dia sudah pengalaman melihat CD
Porno dan majalah porno pikirku. AKu secepatnya ke kamar mandi
mencuci paginaku dan membuka BH dan CD ku. AKu memakai daster miniku
yang tipis. Di kamar mandi aku menyisiri rambutku serapi mungkin dan
menyemprotkan parfum ke bagian-bagian tubuhku. Aku ingin, putraku
mendapatkan yang terbaik dariku, agar dia tidak lari ke PSK atau
tante girang. Putraku harus selamat. Ini satu-satunya cara, karea
nampaknya dia sudah sulit dicegah, pengaruh teman-temannya yang
kuat. Jiwanya sedang labil-labilnya, sebagai seorang yang mengalami
puberitas.
Begitu aku keluar dari kamar mandi, putraku sudah menanti di kamar.
Dia kelihatan bingung melihat penampilanku malam ini. Tidak seperti
biasanya.

“Kamu sudah siap sayang,” kataku. Putraku mengangguk. Kudekati dia.
Kubuka satu persatu pakaiannya. Kini dai telanjang bulat. AKua
melapaskan dasterku. Aku juga sudah telanjang bulat. Aku melihat
putraku melotot mengamati tubuhku yang telanjang. Mungkin dia belum
pernah melihat perempuan telanjang sepertiku di hadapannya. Aku
duduk di tempat tidur. Kutarik tangannya agar berdiri di sela-sela
kedua kakiku. Aku peluk dia. Aku kecip bibirnya dengan mesara.
Pantatnya kusapu-sapu dengan lembut, juga punggungnya. Dengan cepat
terasa burungnya bergerak-gerak di perutku. Kujilati lehernya. dia
mendesah kenikmatan. Liodahku terus bermain di pentil teteknya. Lalu
menjalar ke ketiaknya dan sisi perutnya. Aku merasakan tangan anakku
mulai memagang kepalaku. Kuperintahkan dia untuk duduk di pangkal
pahaku. Kini dia duduk di pangkal pahaku, dengan kedua kakinya
bertumpu ke pinggir tempat tidur. Tiba-tiba aku merebahkan diriku ke
tempat tidur. dia sudah berada di atasku. Kuminta agar dia
mengisap puting susuku. Mulutnya mulai beraksi. Sementara burungnya
terasa semakin keras pada rambut paginaku. Dengan cepat pula,
kurebahkan dirinya. Kini aku yang balik menyerangnya. Kujilati
sekujur tubuhnya. Batang burungnya, telur yang menggantung di
pangkal burungnya. Ku kulum burungnya dan kupermainkan lidahku pada
burung itu.

“Mami…geli,” putraku mendesah.
“Tapi enakkan, wayang,” tanyaku.
“Enak sekali Mi,” katanya. Aku meneruskan kocokanku pada burungnya.
Dia menggelinjang-gelinjang. Kuteruskan kucokanku. Kedua kakinya
menjepit kepalaku dan…croot.croot.crooooooot! Spermanya keluar.
Kutelan sepermanya dan kujilati batangnya agar spermanya tak
tersisa. Aku senagaja memperlihatkannya kepadanya.

Kini dia menjadi lemas. Terlalu cepat dia keluar. Mungkin sebagai
pemula, dia tak mampu mengontrol diri. Kuselimuti dirinya. 20 menit
kemudian, setelah nafasnya normal, aku memberinya air minum segelas.
Lalu aku membimbingnya ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Kusabuni burungnya dan kulap pakai handuk. Kini kami sudah terbaring
berdua di tempat tidur.

“Enak sayang?” tanyaku. Dia menagngguk.
“Tapi Mi, kita kan belum begituan. Katanya kalau begituan, burung
Julius masuk ke lubang mem*k Mami,” katanya polos. Aku menganguk.
Kamu harus segar dulu. Nanti kita ulangi lagi. Nanti kamu boleh
memasukkannya ke lubang Mami, kataku.
“Kenapa nanti Mi? Kenapa tidak sekarang?” dia mendesak.
Dia sudah begitu menginginkannya pikirku. Langsung kulumat bibirnya.
Kujulurkan lidahku ke dala mulutnya. Dia langsung meresponsnya. Kini
dia berganti memberikan lidahnya padaku. Aku mengemutnya dengan
lembut. Tanganku terus membelai-belai tubuhnya dan burungnya kuelus-
elus. Sebentar saja burung itu bangkit.

“Naiki Mami, sayang,” kataku. Dia naik ke tubuhku.
“Masukkan,” pintaku. Dia mencari-cari lubangku. Kuarahkan burungnya
dengan tanganku. Setelah burung itu terasa di tengah bibir paginaku,
kuminta dia menekannya. Dia menakan burungnya dan langsung masuk,
karean paginaku sudah basah. Aku memang sudah sangat lama merindukan
ada burung memasuki paginaku. Setelah terhenti 5 tahun
perselingkuhanku dengan seorang duda teman sekantorku (sejak dia
pindah) aku tak pernah lagi selingkuh.
Burung yang besarnya cukup itu, terasa sudah mengganjal di liang
paginaku. KUkangkangkan kedua kakiku. Aku membiarkan burung itu
tenggelam di dalamnya. Tak lama kemudian, aku merasakan putraku
sudah mulai menarik-cucuk burungnya. Aku biarkan saja, walaupun
sebenarnya aku sudah agak gatal ingin meresponsnya. Lama kelamaan,
aku tak tahan juga. Aku pun meresponnya dengan hati-hati, seakan aku
hanya melayaninya saja, bukan karean kebutuhanku. Sambil memompa
burungnya, kuarahkan mulutnya untuk mengisap-isap pentil payudaraku.
Dia melakukannya. AKu sudah melayang di buatnya. Sudah lama sekali
aku tidak merasakan kenikmatan itu, sementara usia yang 37 tahun,
masih membutuhkannya. Kujepit kedua kakiku ke tubuh putraku. Aku
orgasme dengan cepat. Aku tidak memperlihatkan, kalau aku sudah
orgasme. Perlahan-lahan aku tetap meresponsnya, sampai aku normal
kembali.

“Jangan digenjot dulu, sayang. Mami Capek. Isap saja tetek mami,
sayang,” pitaku. Aku tak ingin dia sudah orgasme, sementara aku
masih jauh. Dia menjilati tetekku dan mengisap-isapnya. Atas
permintaanku, sekali-sekali dia juga menggigit putingku. Libidoku
bangkit. Aku mulai melayang. Aku mulai menggoyang tubuhnya dari
bawah. Dia merespons dengan kemabli menggejotku, menarik dan
mencucuk burungnya ke dalam liang paginaku. Aku mendengar, suara
begitu becek pada paginaku. Aku sedikit malu, karena selama ini, aku
sudah tidak merawat lagi paginaku. Tapi dia semakin semangat
mengocokkan burungnya.

“Mami…aku sudah mau keluar nih…” katanya. Saat itu aku juga
sudah mau muncrat. Aku percepat goyanganku, agar aku lebih dulu
sampai pada puncak kenikmatan itu. Dan…dia memelukku erat sekali.
Bahuku digigitnya dan sebelah tangannya mencengkeram rambutku.
Ternyata kami bisa sama-sama sampai. Aku masih mampu mengatur irama
permainan ini, pikirku.

Aku keringat dan putraku juga berkeringat. Perlahan dia ku baringkan
ke sisiku dan aku menyelimuti tubuh kami dengan selimut tipis,
sekaligus melap tubuh kami dari keringat. Setelah 15 menit aku
bangkit dan meneguk segelas air putih. Segelas kuberikan kepdanya.
Julius berjanji untuk merahasiakan ini kepada siapa saja, termasuk
kepada teman dekatnya. Walau menurut Julius, temannya sudah
berhubungan dengan beberapa wanita di lokalisasi PSK, namun
behubungan dengan ibunya jauh lebih nikmat. Aku juga memberi yang
terbaik buat putraku, demi keselamatan hidupnya, terhidar dari PSK
dan tante giang.

Aku menyangupi, memberinya cara lain bermain seks, seperti yang dia
lihat di CD porno dan majalah-majalah, seperti doggystyle dan
sebagainya. Malam itu, Julius juga bersumpah, tidak akan pergi
mencari PSK, walau pun teman-temannya menuduhnya laki-laki Kuper dan
ketinggalan zaman, karea dia sudah mendapatkannya dariku dengan baik.
Sejak saat itu, kami selalu melakukannya secara teratur, tidak
serampangan. Tenatu saja di tempat tidur, di dapur, di sofa dan
tempat-tempat lai di rumah kami dengan suasana yang indah. Bahkan
kami pernah juga melakukannya di hotel, ketika kami wisata ke bogor.
Semua orang memuji kegantengan putraku yang wajahnya imut-imut dan
manja itu.

Kini putraku sudah SMA, AKu sudah persis 40 tahun. Orang bilang aku
masih tetap cantik, karean aerobik. Sebeanranya, selain aerobik, aku
juga melakukan hubungan seks yang sangat terataur.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar